BREAKING NEWS
Zalakkads
Zalakkads Zalakkads

Artikel Kami

Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Mei 2013

7 Planet Terunik di Jagat Raya

1.Planet WASP-12b

Planet WASP-12b adalah  planet paling panas yang pernah ditemukan. Suhu permukaannya mencapai 3.200 derajat Celcius. Letaknya 870 tahun cahaya dari bumi. Foto: ESA/NASA

2.Planet OGLE-2005-BLG-390L b

Planet OGLE-2005-BLG-390L b adalah planet yang terdingin dan terjauh jaraknya dari bumi, sekitar 28 ribu tahun cahaya. Foto: ESO

3.Planet Dubbed TrES-4

Planet Dubbed TrES-4 merupakan planet terbesar yang diketahui hingga saat ini. Ukurannya 1.7 x planet Jupiter. Jaraknya dari bumi sekitar 1400 tahun cahaya. Foto: Jeffrey Hall, Lowell Observatory

4. Planet Kepler-10b

Planet Kepler-10b, hingga saat ini di ketahui sebagai planet terkecil di luar sistem tata surya. Planet kerdil ini ditemukan pada Januari 2011. Foto: NASA

5. Planet Epsilon Eridani b

Planet Epsilon Eridani b jaraknya sangat dekat dengan bumi, hanya sekitar 10.5 tahun cahaya. Sedemikian dekatnya hingga kita bisa mengamatinya dengan teleskop. Foto: NASA, ESA, G.F. Benedict

6. Planet SWEEPS-10

Planet SWEEPS-10 memiliki kecepatan orbit tercepat. Waktu yang dibutuhkan planet ini untuk sekali mengelilingi bintangnya hanya sekitar 10 jam. Foto: NASA, ESA, A. Schaller (for STScI)

7. Planet GJ 1214b

Astronom memperkirakan seluruh permukaan Planet GJ 1214b tertutup oleh air. Planet yang besarnya 3 kali ukuran bumi ini terletak sekitar 40 tahun cahaya dari bumi. Foto: David A. Aguilar, CFA

Jumat, 08 Februari 2013

Foto-Foto FANTASTIS Bumi dari NASA

NASA telah menunjukkan kepada kita pemandangan Big Marble (kelereng besar/Bumi), planet indah di mana kita hidup dan mempelajari ruang angkasa dan Bumi. Foto Marble pertama Big Blue dirilis pada tahun 1972 dan setiap rilis berikutnya gambar telah meningkat dalam kualitas sehingga rilis terbaru tahun 2012, Big Black Marble (Kelereng Hitam Besar), atau Earth at Night, sangat menakjubkan.




“This image of North and South America at night is a composite assembled from data acquired by the Suomi NPP satellite in April and October 2012. The new data was mapped over existing Blue Marble imagery of Earth to provide a realistic view of the planet.” NASA added, “The day-night band observed Hurricane Sandy, illuminated by moonlight, making landfall over New Jersey on the evening of Oct. 29. Night images showed the widespread power outages that left millions in darkness in the wake of the storm.”
Satelit Suomi National Polar-orbiting Partnership (NPP)t diluncurkan tahun lalu oleh NASA, NOAA, dan Departemen Pertahanan. Satelit ini mengorbit 512 kilometer di atas permukaan planet kita dan memiliki sensor yang sangat sensitif yang dapat mendeteksi cahaya nokturnal yang dihasilkan oleh atmosfer bumi. Bahkan, ia dapat melihat cahaya yang dilepaskan dari lampu jalan tunggal atau satu lampu yang bersinar di kapal yang mengambang sendirian di laut. VIIRS (Visible Infrared Imaging Radiometer Suite) membawa sensor cahaya rendah yang dapat membedakan lampu malam dengan resolusi spasial yang enam kali lebih baik dan resolusi tingkat pencahayaan (dynamic range) 250 kali lebih baik dari sebelumnya.

NASA menambahkan, "Sebuah gambar komposit global yang dibangun dengan menggunakan gambar-gambar  malam bebas awan dari satelit NASA dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), menunjukkan cahaya dari fenomena alam dan cahaya buatan manusia di seluruh planet secara lebih rinci daripada sebelumnya". Jadi ini adalah seri dari kelereng besar dalam Old, New, Aqua, Blue, Putih dan Hitam.

Jika Anda berpikir bahwa ini adalah rumah kita semua, terlepas dari daerah mana Anda berada, maka tampaknya suatu saat mungkin kita bisa mencapai perdamaian di Bumi rumah kita ini. Hal ini juga menunjukkan mengapa kita harus melindungi lingkungan kita. . . ini adalah milik anak-cucu Anda dan kita semua.




Black Marble – Africa, Europe, and the Middle East. NASA reported, “Unlike a camera that captures a picture in one exposure, the day-night band produces an image by repeatedly scanning a scene and resolving it as millions of individual pixels. Then, the day-night band reviews the amount of light in each pixel. If it is very bright, a low-gain mode prevents the pixel from oversaturating. If the pixel is very dark, the signal is amplified.” The Earth Observatory wrote of the night lights on our globe, “Scientists are using new images of Earth’s dark side to gain insight on human activity and poorly understood natural events.”



Black Marble Europe at night 2012. “For all the reasons that we need to see Earth during the day, we also need to see Earth at night,” said Steve Miller, a researcher at NOAA’s Colorado State University Cooperative Institute for Research in the Atmosphere. “Unlike humans, the Earth never sleeps.”



Black Marble – Asia and Australia. On Out of the Blue and Into the Black, Miller is quoted as saying, “The night is nowhere near as dark as most of us think. In fact, the Earth is never really dark. And we don’t have to be in the dark about what is happening at night anymore either.”



Composite map of the world assembled from data acquired by the Suomi NPP satellite in April and October 2012.



Black Marble – City Lights 2012. NASA’s Earth Observatory said, “Earth at Night 2012: It’s the end of the night as you know it; you’ll see fine.”



Most Amazing High Definition Image of Earth – Blue Marble 2012.



The Blue Marble 2012 turned into a ‘White Marble’ with this snow and ice Arctic View. “Fifteen orbits of the recently launched Suomi NPP satellite provided the VIIRS instrument enough time (and longitude) to gather the pixels for this synthesized view of Earth showing the Arctic, Europe, and Asia.”



NASA Blue (Aqua) Marble 2007 West.



NASA Blue (Aqua) Marble 2007 East.



NASA’s Spacecraft View of Aurora Australis from Space. NASA file image acquired September 11, 2005.



Blue Marble – 2002.



Blue Marble 2002: At the time, “This spectacular ‘blue marble’ image is the most detailed true-color image of the entire Earth to date.”



Blue Marble 2000.



Earth image and star field background, released in 2000.



First Blue Marble image captured from Apollo 17 on Dec 7, 1972. “View of the Earth as seen by the Apollo 17 crew traveling toward the moon. This translunar coast photograph extends from the Mediterranean Sea area to the Antarctica south polar ice cap. This is the first time the Apollo trajectory made it possible to photograph the south polar ice cap. Note the heavy cloud cover in the Southern Hemisphere. Almost the entire coastline of Africa is clearly visible. The Arabian Peninsula can be seen at the northeastern edge of Africa. The large island off the coast of Africa is the Malagasy Republic. The Asian mainland is on the horizon toward the northeast. Astronaut photograph AS17-148-22727 courtesy NASA Johnson Space Center Gateway to Astronaut Photography of Earth.”



What is your favorite…Old, New, Aqua, Blue, White or Black Marble? Blue Marble – Astronaut photograph 1972; Blue Marble 2002; Aqua Marble 2005; Bottom row left to right: Blue Marble 2012; White Marble 2012; Black Marble 2012. NASA Goddard Space Flight Center wrote, “Since we have escaped the bounds of gravity, visions of Earth have inspired and captured the imagination. Here are a few of the most iconic views of our planet returned by both living astronauts and robotic spacecraft in orbit throughout the space age.

Kamis, 17 Mei 2012

Galaksi NGC 891, Galaksi Spiral Bertabur Bintang

Galaksi NGC 891. Image credit: NASA
Bagian tepi utara dari galaksi spiral NGC 891 yang menyerupai ujung "pedang" dari kisah-kisah fiksi, berhasil ditangkap oleh teleskop Hubble. Tepi galaksi tersebut tampak bersinar terang oleh cahaya dari miliaran bintang yang di sekelilingnya terdapat awan dan debu.

Dikutip dari universetoday.com, Selasa (15/05/2012), Diameter galaksi NGC 891 ini hampir sama dengan galaksi BIma Sakti yaitu sekitar 100.000 tahun cahaya dan ujung utara yang seperti tampak pada gambar ukuranya mencapai 40.000 tahun cahaya.

Tidak seperti galaksi Bima Sakti, galaksi NGC 891 ini memiliki begitu banyak gas dan debu. Para astronom berpendapat ahwa ini merupakan hasil dari ledakan supernova dan pembentukan bintang yang memancarkan materi dalam jumlah besar ke ruang antar bintang jauh di ruang angkasa. galaksi ini terletak di konstelasi Andromeda dan berjarak 30 juta tahun cahaya dari Bumi.

Minggu, 29 April 2012

Tipuan Mata Terbesar di Jagat Raya

Pasti tidak sedikit dari kita bertanya-tanya, apa sih yang sebenarnya menjadi tipuan mata terbesar dialam semesta ini? Ternyata hal ini bukanlah sebuah rahasia, bahkan kita sudah sejak lama menyaksikannya.

Langit pada malam hari adalah sebuah tipuan mata terbesar di jagat raya ini. Loh, mengapa begitu? Itu karena, pada malam hari yang cerah saat anda mengarahkan pandangan ke atas langi tentunya anda akan melihat bintang-bintang bertaburan di angkasa raya. Tapi pernahakah anda bayangkan kalau bintang-bintang yang anda lihat tersebut adalah matahari, seperti matahari yang ada di tata surya kita?

Matahari yang kita miliki diameternya sekitar 200 kali bumi. Isinya adalah gas hydrogen yang sedang bereaksi secara termonuklir menjadi gas helium. Sedangkan bintang-bintang itu ada yang berpuluh-puluh kali atau bahkan beratus-ratus kali lebih besar dibanding besarnya matahari. Yang paling besar pernah ditemukan mencapai sekitar 500 kali matahari, atau setara dengan 100 ribu kali lebih besar dari bumi.

Ukuran yang begitu besar, tapi mengapa kelihatan begitu keci? Ya, semua itu dikarenakan jaraknya yang sangat jauh dari bumi. Contoh, jika dalam ilmu astronomi disebutkan jarak sebuah bintang terdekat dari bumi sekitar 8 tahun cahaya. Maka itu artinya dibutuhkan waktu selama 8 tahun bagi cahaya untuk menuju sebuah bintang. Jadi kalau kita kalkulasikan dalam kilometer dimana kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik. Maka, jaraknya adalah: 8 tahun x 365 hari x 24 jam x 60 menit x 60 detik x 300.000 km = 75.686.400.000.000 km, atau sekitar 75 triliun kilometer. Sungguh jarak yang tak terbayangkan dalam kehidupan kita.

Jumlah bintang yang ada di alam semesta ini triliunan banyaknya, dan disetiap 100 miliar bintang, akan membentuk gugusan yang bernama Galaksi. Gugusan bintang yang kita tempati adalah Galaksi Bimasakti. Di sebelah Bimasakti ada Andromeda dan seterusnya. Ada miliaran galaksi di jagad semesta ini, dan yang lebih dasyat lagi, dari setiap 100 miliar galaksi membentuk gugusan galaksi yang disebut Super-Cluster, dan seterusnya. Jagad semesta sampai saat ini belum diketahui batasannya.


Berapakah jarak gugusan bintang-bintang itu? Bermacam-macam, ada yang berjarak 100 tahun cahaya. Ada yang 1000 tahun cahaya. Ada juga yang 1 juta tahun cahaya. Dan yang paling jauh berjarak 10 miliyar tahun cahaya seperti yang ditemukan oleh ilmuan Jepang.

Jadi pernahkah anda membayangkan, bahwa matahari yang kita lihat ini adalah matahari yang kita lihat 8 menit yang lalu? Ya, itu karena sinar matahari memerlukan waktu 8 menit untuk mencapai bumi kita yang berjarak 150 juta kilometer dari matahari. Berarti, matahari yang kita lihat pada saat itu adalah matahari 8 menit yang lalu, aneh bukan? Hal ini dikarenakan cahaya juga membutuhkan waktu untuk sampai ketempat tujuan.

Tidak berbeda dengan bintang-bintang yang berjarak lebih jauh lagi. Kalau kita sedang mengamati bintang berjarak 100 juta tahun cahaya, maka sebenarnya bintang yang sedang kita amati itu adalah kondisi 100 juta tahun yang lalu.

Jadi dengan kenyataan seperti itu, jika kita memandangi langit malam maka sebenarnya kita bukan melihat langit yang sekarang saja. Tetapi pada saat yang bersamaan kita sedang melihat langit 1000 tahun yang lalu, langit 1 juta tahun yang lalu dan bahkan langit 10 miliar tahun yang lalu. Jadi tipun mata terbesar di jagat raya ini adalah "Langit Malam."

Jumat, 20 April 2012

Apollo 16

Apollo 16 adalah misi berawak kesepuluh dalam program Apollo dan yang kelima yang mendarat di Bulan. Misi ini diluncurkan pada 16 April 1972 dari Pusat Antariksa Kennedy menggunakan roket Saturn V SA-511 dan mendarat di Bulan pada 21 April 1972.

Apollo 16 adalah misi kelas-J dan mengangkut sebuah wahana Lunar Rover. Sejumlah 94,7 kg sampel Bulan berhasil dibawa kembali ke Bumi. Tiga EVA (extra-vehicular activity; kegiatan yang dilakukan di angkasa dan di luar wahana) dilaksanakan, di antaranya untuk merekam video dari luar pesawat serta melakukan uji coba terhadap kelangsungan hidup mikrobial.

Subsatelit-subsatelit Apollo 16 diluncurkan pada 24 April 1972 saat masih di orbit bulan dan menjalankan berbagai uji coba terhadap medan magnet dan partikel-partikel surya. Dalam perjalanan menuju Bulan, Apollo 16 mengambil beberapa foto Bumi.
Sebuah kegagalan pada sistem pendorong utama CSM (Command/Service Module; modul perintah/pelayanan) Casper hampir menyebabkan pendaratan di Bulan dibatalkan, namun kemudian diputuskan bahwa hal ini tidak mengandung risiko yang tinggi dan Young dan Duke diizinkan untuk menjejakkan kaki di Bulan, meskipun misi ini harus dikurangi satu hari dari jadwal.
Selama tiga hari Young dan Duke menjelajahi kawasan dataran tinggi Descartes, sementara Mattingly mengeliling di atas di Casper. Para antariksawan menemukan bahwa kawasan tersebut – yang dikira sebagai kawasan gunung berapi – ternyata merupakan kawasan yang dipenuhi bebatuan yang terbentuk akibat benturan (breccia). Termasuk dalam spesimen-spesimen yang mereka bawa pulang adalah sebongkah batu seberat 11,7 kg yang merupakan batu terbesar yang pernah dibawa kembali ke Bumi oleh para antariksawan Apollo.[2] Para antariksawan Apollo 16 juga melakukan pengujian performa menggunakan wahana Rover dan sempat mencapai kecepatan tertinggi pada 8 kilometer per jam, yang hingga kini masih tercatat sebagai kecepatan terbaik yang pernah dicapai di Bulan oleh sebuah wahana beroda.
Modul perintah Apollo 16 saat ini berada di Pusat Antariksa dan Roket Amerika Serikat di Huntsville, Alabama.
 
Copyright © 2013 Zalakka
Powered by Blogger